Menyikapi Peringatan Peristiwa G 30 S PKI tahun 1965

Sewaktu saya masih sekolah dari SD sampai dengan SMA, dalam pelajaran Sejarah dan PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) sering dijelaskan baik oleh guru maupun buku mengenai Peristiwa Pemberontakan G 30 S PKI, dimana dikisahkan bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) menjadi dalang penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat plus seorang perwira pertama.  Ada juga kisah lain mengenai pembunuhan perwira Angkatan Darat juga di daerah Jawa dengan PKI sebagai dalangnya.  Dalam buku-buku pelajaran sejarah saat itu juga dijelaskan bahwa kemudian Gerakan 30 S (September) yang di dalangi oleh PKI itu berhasil ditumpas oleh perwira tinggi Angkatan Darat lain-nya yang didukung oleh segenap elemen masyarakat, mahasiswa, pelajar, alim-ulama dll.

Kurun waktu 1980-an sampai dengan tahun 1998, tiap malam tanggal 31 September selalu ada “tontonan wajib” di TVRI yaitu Film Pemberontakan G 30 S PKI yang disutradarai (kalau tidak salah) oleh Arifin C. Noer dan penata musik saat itu oleh Idris Sardi. Film tersebut kalau tidak salah terbagi dalam dua chapter, Chapter pertama yaitu saat pengenalan tokoh-tokoh dalam Film tersebut seperti keluarga Jenderal Nasution, keluarga Jenderal Achmad Yani, Presiden Soekarno yang saat itu digambarkan sedang sakit, para pejabat PKI dll.  Chapter kedua adalah saat malam 30 September diadakannya operasi penculikan dan pembunuhan para Jenderal plus satu Perwira pertama tersebut.  Chapter kedua inilah yang paling “ditakuti” oleh anak-anak, karena ada adegan pembunuhan para jenderal, banyak darah dan tangisan.

Setelah bergulirnya Reformasi dan tumbangnya orde baru tahun 1998, ada “perubahan” sejarah dimana orang-orang yang saat orde baru berkuasa di anggap sebagai tokoh / antek PKI mulai berani bercerita lantang kemana-mana dengan tujuan “meluruskan” sejarah mengenai pemberontakan G 30 S  PKI tersebut.  Mereka berkisah bahwa Orde Baru sengaja menjatuhkan kekuasaan Presiden Soekarno dengan menjadikan PKI (Partai Komunis Indonesia) sebagai dalang peristiwa G 30 S PKI.  Mereka juga berargumen bahwa pembunuhan Para Jenderal Angkatan Darat tersebut terjadi karena memang ada konflik interen di tubuh Angkatan Darat yang merupakan urusan dan tanggungjawab Angkatan Darat sendiri bukannya gara-gara perbuatan tokoh-tokoh PKI.

Sejarahpun berbalik, kalau semasa orde baru orang-orang yang ada hubungannya dengan PKI di habisi, dihujat, disisihkan dari pergaulan, sekarang setelah orde baru tumbang dan Bapak Suharto (Presiden RI ke 2) “dilengserkan” dari kekuasaan-nya, malahan generasi muda kita lebih percaya kalo Bapak Suharto dan kroni-kroni orde baru-nya perebut kekuasaan Presiden Soekarno, merekayasa Supersemar (Surat Perintah 11 Maret), menggalakkan korupsi, kolusi dan nepotisme selama 32 tahun berkuasa.

Saya banyak membaca buku mengenai sejarah masa lalu bangsa-bangsa besar dan kaya saat ini.   Semuanya mempunyai masa lalu yang kelam.  Tapi itu mereka jadikan bahan pembelajaran bagaimana membangun bangsa lebih yang baik, rakyat yang sejahtera dan makmur.

Amerika Serikat negara adidaya saat ini pernah hampir pecah gara-gara perang saudara antara blok utara dan selatan.  Korbannya sangat banyak, akan tetapi mereka sekarang sudah hidup bersatu, melupakan perbedaan pada masa lalu.  Membangun perekonomian dan pertahanan yang kuat bahkan mampu “expansi” ke negara-negara lainnya.

Prancis yang saat ini dikenal karena keindahan kota-kotanya dan kemajuan perekonomiannya juga pernah mengalami masa-masa pahit saat revolusi prancis pada abad ke 18.  Rajanya dihukum pancung, rakyatnya banyak yang terbunuh, tetapi kemudian mereka berbenah, melupakan segala perbedaan yang ada, bersatu membangun bangsa mereka dan saat ini menjadi salah satu bangsa yang diperhitungkan di eropa.

Kita juga harus belajar dan berusaha seperti negara-negara maju itu.  Orde Lama, Orde Baru….  marilah kita kubur dalam-dalam.  Dan jangan pengaruhi generasi muda kita dengan kebencian terhadap orang-orang buruk dari masa lalu.  Kita harus bekerjasama membangun bangsa kita ini karena tantangan dimasa yang akan datang lebih berat.  Musuh bukan cuma komunis, tapi juga narkoba, AIDS, pornografi, homo, lesbi dll.

Mudah – mudahan negara Indonesia ini sebelum kiamat bisa merasakan menjadi negara adidaya dan paling makmur didunia.  Amien…

 

 

 

Iklan

Indonesia International Motor Show (IIMS) 2013

Hari Sabtu, 21 September 2013 kemarin Saya mengunjungi pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2013.   Tepatnya ini adalah IIMS yang ke 21.  Dari tahun ke tahun acaranya pokoknya sama, ya itu….. pameran otomotif (mayoritas roda empat keatas).

Sebetulnya saya males jalan-jalan hari sabtu, karena saya lebih senang sabtu-minggu dirumah saja sambil beristirahat setelah hari senin sampai jum’at bekerja.  Apalagi saya cuaca sekarang tidak bisa ditebak.  Pagi mendung mau hujan, siangnya panas menyengat, sorenya hujan deras.  Tapi karena saya ingin menyaksikan mobil-mobil keluaran terbaru yang katanya murah dan mengusung slogan “Low Cost Green Car” / LCGC (mobil murah, hemat dan bersahabat dengan lingkungan) saya jalan juga ke pameran tersebut yang diadakan di arana JIEXPO Kemayoran.  Tepatnya di kawasan penyelenggaraan PRJ (Pekan Raya Jakarta) Kemayoran.

Saya tiba di sana sekitar pukul 14.15 dan hampir saja saya balik lagi pulang ke rumah.  Lho kok..?? Pasalnya begitu saya sampai di loket tempat pembelian karcis masuk pameran, saya lihat pengumuman di kaca loket.  Harga tiket masuk hari Senin sampai Kamis Rp. 40.000,-  Sedangkan untuk hari Jum’at sampai Minggu harga tiket masuknya Rp. 60.000,-   Mahal bangeetttt !!!!    Alhamdulillah saya kalau keluar rumah selalu membawa uang lebih, sehingga setelah mikir-mikir 1 menit, saya beli juga itu tiket.

IIMS1

Setelah itu saya mulai masuk kedalam untuk mencari mobil-mobil murah LCGC (Low Cost Green Car) itu.  Akhirnya saya menemukan juga mobil-mobil yang saya maksudkan.  Adalah sedan Ayla yang merupakan produksi pabrikan mobil Daihatsu yang mengusung slogan mobil murah ramah lingkungan tersebut.  Sedan ini mungkin penerus generasi Daihatsu Ceria yang tidak begitu laris dipasaran.  Harga Daihatsu Ayla berkisar antara 77 jutaan sampai 89 jutaan.  Jadi masih dibawah sedan kecil sekelas seperti Suzuki Swift dan Honda Brio yang harganya sudah mendekati 200 juta.  Saya juga melihat mobil yang merupakan hasil dari pabrikan mobil india yaitu sedan “Tata”.

Yang bikin saya tertarik adalah kembalinya pabrikan mobil Datsun dari Jepang dan Fiat dari Italia ke “pertarungan pasar” mobil di Indonesia.   Seperti kita tahu kedua pabrikan mobil tersebut pernah ikut “meramaikan” jalanan kota-kota di Indonesia kurun waktu 70-an sampai tahun 80-an.  Bahkan mobil Fiat sampai tahun 90-an akhir masih ada dengan merek Fiat Uno-nya.

IIMS4

Sayapun jadi tertarik bila ada uang mau juga merasakan mobil Fiat terbaru ini.

Di IIMS kali inipun saya tidak melewatkan menyambangi stand-stand mobil mewah seperti BMW, Mercedes-Benz, Audi, Daimler-Chrysler, Peugeot dll.  Dan tentu saja tidak melewatkan mencoba duduk dibelakang kemudi mobil-mobil kelas atas tersebut.

IIMS2

Seperti di foto ini saya sedang ada dibelakang kemudi mobil BMW 320i M3 warna merah yang keren abisss..

Disamping itu saya juga tidak melewatkan mengambil foto dari model-model yang “dipajang ” di tiap stand pameran.

IIMS3

Seperti pada foto diatas ini saya ambil dari stand mobil Honda.  Cewek-cewek ini tidak menolak bila ada yang memotret mereka.  Mereka siap pasang senyum paaaling manis.

Ada juga lhal lain yang menarik dari pameran IIMS 2013 ini.  Yaitu mobil Chevrolet Camaro dari “Hot Wheels”  Tapi yang ini bukan mobil “diecast” kecil mainan anak-anak itu lho!!  Melainkan mobil sungguhan yang ada stiker Hot Wheels pada kedua pintunya.

IIMS5

Memang Perusahaan mobil Chevrolet merupakan salah satu pemberi lisensi kepada pabrik mainan Hot Wheels agar bisa mengabadikan mobil ciptaan mereka dalam bentuk miniatur mainan mobil-mobilan.  Kalo ada di Carrefour saya mau beli ah miniatur diecast-nya…

Sekitar jam 19.00 lewat, saya kembali pulang kerumah dengan membawa sejuta kenangan mengunjungi Indonesia International Motor Show 2013.

 

 

Teror Pada Anggota Polri

Seorang anggota Polri (Polisi Republik Indonesia) ditembak sampai mati pada hari Selasa malam, tanggal 10 September 2013 di depan gedung KPK (Komite Pemberantasan Korupsi), Jln. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.  Saat itu korban yang berkendara motor Honda Supra sedang mengawal truk tronton bermuatan elevator part dari Tanjung Priuk menuju Rasuna Tower.

Sebelumnya juga terjadi beberapa kali penembakan terhadap anggota Polri.

Tanggal 4 Juli 2013, Briptu Ratijo di tembak orang tak dikenal di daerah Lampung Selatan.  Korban selamat dan dilarikan ke rumah sakit.

Tanggal 27 Juli 2013 Aipda Patah Saktiyono ditembak orang tak dikenal di Ciputat, Tangerang Selatan.  Korban selamat dan dilarikan ke rumah sakit.

Tanggal 7 Agustus 2013 Aiptu Dwiatno ditembak orang tak dikenal di Ciputat, Tangerang Selatan.  Korban tewas ditempat.

Tanggal 16 Agustus 2013 Bripka Maulana dan Aipda Kus Hendratma ditembak orang tak dikenal di Pondok aren, Tangerang.  Kedua korban tewas ditempat.

Sampai tulisan ini saya “release”, Polisi masih menyelidiki dan mencari tahu siapa pelaku penembakan selama ini, karena pelaku penembakan yang lalu-lalu belum terungkap, sudah ada kasus yang baru.

Saya pribadi sebagai salah seorang anggota masyarakat turut prihatin dengan aksi penembakan terhadap para anggota Polisi ini.  Mereka (para Polisi) itu bertugas “melindungi dan mengayomi” masyarakat.  Kok malah ditembaki??  Bisa-bisa Pak Polisi gak ada lagi yang berani keluar malam.

Saya punya usulan :

  1. Razia senjata api berikut pemeriksaan surat-surat baik itu senjata milik TNI, Polri, Para Petugas Keamanan, Para Pejabat, Pengusaha, Eksekutif dll.
  2. Itu Densus 88 harus “diberdayakan” untuk mengungkap kasus ini.  Jangan cuma bisa ngejar orang-orang yang dianggap teroris saja.
  3. Kalo bisa Pak Polisi yang bertugas malam harus dilengkapi dengan rompi anti peluru.  Kayak rompi NYPD atau SWAT di Amerika (AS).
  4. Polisi juga harus lebih baik dalam menangani masyarakat, harus sopan dan tidak arogan.  Bisa jadi itu ulah dari oknum masyarakat yang sakit hati terhadap perlakuan oknum anggota Polisi.
  5. Kalau ada anggota TNI atau Polri yang dipecat dengan tidak hormat dari kesatuan/korps-nya, maka seluruh senjata dan “inventaris dinas-nya” harus ditarik oleh lembaganya, termasuk senjata api dengan pelurunya, pisau, sangkur, kompas, pentungan, priwitan, sepatu, topi pet, kopel ram/sabuk dinas dll.

Yah….. itulah usulan dari salah satu anggota masyarakat.

Pengalaman Mengendarai Motor (Urusan Tilang).

Tepat hari Sabtu, 31 Agustus 2013 yang lalu untuk pertama kali-nya saya berurusan dengan Polisi Lalulintas.   Apalagi kalo bukan masalah tilang atas pelanggaran lalulintas.  Kejadiannya kira-kira di depan Kampus Universitas Empu Tantular, Jakarta Timur.  Menurut Mas Polisi (karena masih muda) saya kena dua pasal, yaitu tidak lewat jalur khusus untuk motor dan tidak bisa menunjukkan SIM (Surat Izin Mengemudi).

Waktu itu saya pasrah aja di suruh tandatangan di selembar kertas tilang berwarna merah dan Beliau menyita STNK motor saya.  Polisi itu bilang bahwa saya harus mengambil STNK tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada hari Jum’at, 6 September 2013.   Alamatnya tertera yaitu di Jalan DR. Sumarno, dekat Kantor Walikota Jakarta Timur.

Setelah kejadian itu Saya sempet bingung juga.   Soalnya saya sama sekali belum pernah ke wilayah tersebut.   Selama bawa motor, saya lebih banyak kearah Jakarta Selatan, Depok, Cibubur dan ke Kemayoran Jakarta Pusat.

Dari hari senin sampai hari rabu saya sibuk nyari berita dan informasi tentang wilayah PN Jakarta Timur tersebut di internet.  Jalan yang harus dilalui, rute angkutan umum dan busway.  Kesimpulan yang saya dapat adalah bahwa saya bisa mulai dari arah Jatinegara-Kampung Melayu ke arah ke Pondok Kopi, menyusuri jalan disamping rel kereta api (di kiri) dan jalur busway (di kanan).  Di daerah Penggilingan ada Flyover, saya-pun naik menyusuri Flyover dan begitu turun sekitar 500 meter di depan saya belok ke kanan sejajar dengan jalur busway saya sudah sampai di PN. Jakarta Timur (ada di kiri).

PN-Jaktim

Saya lihat didepan pagar PN banyak orang pada berdiri sembari berteriak-teriak memanggil para pengendara motor dan mobil yang melintas.

“Ayo pak!”  “Sini pak!”  “Paakk!”

Saya udah nebak mereka itu siapa.  Itulah para calo yang memaksa meminta  para “terdakwa” pelanggaran lalulintas menggunakan jasa mereka.  Waktu hari Senin sampai Rabu saya browsing internet tak lupa saya mencari informasi mengenai para calo tersebut.  Dari internet saya tau bahwa di PN Jakarta Timur itu mereka berada di luar pagar pengadilan menawarkan jasa mereka kepada pengunjung pengadilan dengan setengah memaksa.  Di internet disarankan agar tidak menggunakan jasa mereka karena selain mahal, juga tidak banyak gunanya karena harus menunggu lama juga.

Berdasar pengetahuan dari internet itulah saya langsung mengarahkan motor saya kedalam parkiran gedung PN yang terletak di bagian belakang gedung.  Tanpa menghiraukan para calo tersebut.  Sampai di parkiran saya bertemu dengan seorang karyawan PN yang bersiap-siap mau olahraga.  Maklum hari Jum’at pegawai negeri pada olahraga semua.

Saya bertanya pada orang itu.  “Pak, numpang tanya, kalo mau ngurus tilang dimana ya?”   Lalu orang itu menjawab “Itu disana pak, ada orang-orang pada antri nunggu loketnya buka”.  “Bapak ngambil nomer dulu di loket itu, baru kemudian ikut sidang”

Lalu saya jalan kesana dan ternyata baru ada beberapa orang yang duduk-duduk di bangku depan loket tersebut.

PNJaktim1

Waktu itu kurang lebih jam 07.33 WIB.   Saya berangkat dari rumah di Pasar Rebo sekitar jam 06.10 WIB.  Jadi tidak terlalu siang untuk mengantri.   Jam 08.00 loket pengambilan nomor antrian dibuka.  Semua berebut untuk mendapat nomor yang awal.  Dengan dibantu beberapa satpam kerumunan orang yang berebut nomor di depan loket bisa di atur sehingga antri dengan tertib.  Kertas tilang kita yang warnanya merah di berikan ke petugas di loket dan kita diberikan nomor antrian.  Tetapi ada sedikit ricuh.  Ternyata tidak ada seorangpun yang mendapatkan nomor antrian 1 sampai nomor 100.   Orang pertama memegang nomor 101.  Terus nomor 102, 103, ….. dan seterusnya.  Saya sendiri dapat nomor 124.  Lantas dimana nomor antrian 1 sampai dengan 99??  Kami semua pada mengira nomor-nomor kecil tersebut telah dikuasai oleh para calo yang didepan tadi.  Jadi kalau ada orang yang mau menggunakan jasa mereka tinggal dikasih nomor 1, 2, 3, dan seterusnya.

Sekitar jam 08.50 pagi ruang sidang dibuka.  Semua pada masuk ruang sidang, dengan menduduki bangku kayu panjang yang sudah ada.

PNJaktim2

Tempat duduk para hakim masih kosong.  Kami semua menunggu sampai sekitar jam 09.15 WIB, sampai para hakim tersebut memasuki arena ruangan dan dengan ketukan palu oleh Bapak Hakim Ketua, sidang dimulai.

Ternyata tidak seperti bayangan saya tentang sidang pengadilan.  Rupanya sidang pengadilan lalulintas memang beda.  Kami dipanggil satu-persatu secara acak, kemudian maju kedepan dan ditanya sama Hakim Ketua yang sudah memegang kertas tilang kita.

Hakim : “Salah kamu apa?”

Saya : “Salah jalur dan tidak bawa SIM pak!”

Hakim : “Kalau begitu dendanya 70.000 ya?!”

Saya : ………  (dalem hati Alhamdulillah nggak mahal)

Lalu kami di suruh masuk keruangan sebelah untuk menyelesaikan masalah administrasi.  Yaitu membayar denda ditambah ongkos perkara 500 rupiah.

Sesampai di parkiran motor saya lihat jam 09.24 WIB.  Jadi waktunya cukup singkat juga.  Yang lama itu menunggu sidang dimulai karena para pegawai Pengadilan Negeri itu harus olahraga senam pagi dulu tiap hari Jum’at.

Saat keluar dari gedung PN Jakarta Timur saya berpapasan kembali dengan para calo tersebut.   Di dalam hati saya merasa bangga karena saya tidak KKN dengan menyogok Polisi di jalan dan minta bantuan para calo di depan pengadilan.  Semua saya selesaikan sendiri dengan mudah cepat dan puas.