Darurat Narkoba dan Eksekusi Mati

Algojo

Tepat jam 00:18 WIB, Tanggal 29 April 2015 dini hari,  8 (delapan) orang terpidana mati kasus narkoba di eksekusi tembak  oleh regu tembak dari Brimob Polda Jawa Tengah, setelah grasi mereka di tolak oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo.  Dampak dari eksekusi mati inipun meluas.  Pemerintah Australia, Brazilia, Prancis mengecam keras eksekusi mati tersebut.  Pemerintah Australia bahkan mengancam akan menarik Duta Besarnya dari Indonesia sebagai pertanda pemutusan hubungan diplomatik.  Terjadi perang opini dan kata-kata di berbagai media sosial.  Ada yang mengecam hukuman mati terhadap para pengedar dan bandar narkoba tersebut.  Ada juga yang membela kebijakan Pemerintah terhadap putusan hukuman mati tersebut.  Semua jadi ribut dan ribet.  Entah sampai kapan….

Saya pribadi termasuk orang yang mendukung putusan hukuman/eksekusi  mati untuk para pengedar dan bandar narkoba ini dengan berbagai alasan :

  1. Narkoba pada umumnya membuat ketagihan.  Ketagihan mengakibatkan keinginan untuk mengkonsumsi terus-menerus.  Jadinya harus beli.  Belinya pakai uang, sedangkan harganya tidak murah, jadi harus punya uang banyak untuk bisa terus mengkonsumsinya.  Hal ini bisa berakibat habisnya uang/dana untuk keperluan rumahtangga & keperluan hidup lainnya.
  2. Banyak penguna narkoba yang dengan teganya mengambil uang yang sedianya untuk keperluan rumah tangga dan dana pendidikan.  Ada juga pengguna yang mengambil perhiasan logam mulia milik orang tua nya.  Akibatnya, biasanya perekonomian keluarga jadi hancur.
  3. Pengguna narkoba juga banyak yang melakukan tindakan kriminal, mencuri, memeras, merampok untuk mendapatkan uang guna membeli narkoba.  Akibatnya banyak orang yang terdzolimi.
  4. Untuk sembuh dari pengaruh ketagihan narkoba sangatlah sulit.   Sudah ke Rumah Sakit Ketergantungan (RSKO) Cibubur, ke orang pinter, nyantri di pesantren, ke dokter ahli.  Banyak yang gagal alih-alih berhasil sembuh.
  5. Sudah banyak pecandu narkoba yang menemui ajalnya karena OD (over dosis).  Tetangga saya satu RW pun sudah 4 orang yang mati karena OD.  Ada yang mati di kamar, di kos-kosan, didalam mobil.  Dari beberapa orang yang kena narkoba cuma satu orang saja yang sembuh dan sekarang bisa hidup normal dengan keluarganya.

Seruan Peresiden “Darurat Narkoba” dan hukuman mati bagi bandar dan pengedar narkoba dikarenakan sudah banyaknya generasi muda Indonesia yang terkena narkoba, jadi pecandu.  Dilain pihak, pengedar dan bandar narkoba juga makin massif, makin agresif, makin lihai dan banyak akal untuk memasarkan, menyebarkan barang dagangan haram mereka dan makin pintar dalam mengelabui pihak aparat berwenang.  Sekarang narkoba sudah ada dalam bentuk biskuit, perangko, jajanan anak di sekolahan dll.  Membuat resah para orang tua yang punya anak bersekolah.

Orang yang kena narkoba sikapnya jadi berubah.  Tidak peduli dengan sekitarnya, enggan beribadah kepada Tuhan Sang Pencipta.  Badannya pun jadi kurus dan mudah terkena penyakit.  Yang sudah sembuh-pun masih ada “sisa nya”, mereka jadi lebih lamban dalam berfikir dan bertindak.

Saya tidak mau melihat generasi masa depan kita jadi “generasi teler”.   Sudahlah sekarang generasi kita ini pada korupsi (sebagian),  generasi yang akan datang pada teler dan lemah gara-gara narkoba.  Bisa-bisa kita dijajah lagi oleh negara lain. Makanya saya benar-benar mendukung upaya pemerintah untuk menghukum mati para bandar dan pengedar narkoba itu.

Demi masa depan generasi muda kita…..

Demi masa depan Indonesia……

 

 

 

Iklan

Kapolri Baru dan Harapan Masyarakat

Constable-Series-11

Baru saja dilantik Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang baru, oleh Presiden Republik Indonesia pada Hari Jum’at, 17 April 2015.   Bapak Badrodin Haiti namanya.  Sebelumnya beliau menjabat sebagai Wakil Kapolri Bapak Sutarman yang sudah memasuki masa pensiun.

Kami masyarakat/rakyat/ wong cilik, cuma bisa berharap pada Bapak Kapolri  yang baru ini…… supaya bisa membawa Korps Kepolisian Republik Indonesia menjadi lebih Profesional, menindak yang salah dan melindungi yang benar, STOP Pungli, tindakan kasar dan lain-lain, serta bisa menciptakan rasa aman di seluruh negara kita ini.

Sebelum di lantik jadi Kapolri, Beliau sudah menuai banyak pujian dari masyarakat.  Yaitu dengan kebijakannya mengesahkan pemakaian Hijab/Jilbab bagi Pilisi Wanita (Polwan) yang beragama Islam.  Ini benar-benar mengakhiri kemelut persoalan boleh/tidaknya Polwan Muslimah berjilbab yang sudah mengemuka sejak jaman Bapak Timur Pradopo masih menjabat sebagai Kapolri.  Jadi sekarang Polwan Muslimah bisa memilih gaya berbusana sesuai dengan tingkat keimanannya masing-masing.

Kita tunggu apalagi kebijakan bagus yang akan di ambil oleh Bapak Kapolri kita yang baru ini.

Selamat bertugas Pak Badrodin!